GRID_STYLE

Post/Page

Weather Location

{fbt_classic_header}

Informasi Soal Amfibi dan Reptil Sangat Minim di Sumut

Informasi Soal Amfibi dan Reptil Sangat Minim di Sumut

Informasi Soal Amfibi dan Reptil Sangat Minim di SumutSalah satu hewan amfibi. (Foto istimewa/Fajar Kaprawi) (rel/rzp)������������������������������…

Informasi Soal Amfibi dan Reptil Sangat Minim di Sumut

Informasi Soal Amfibi dan Reptil Sangat Minim di Sumut

Informasi Soal Amfibi dan Reptil Sangat Minim di Sumut

Salah satu hewan amfibi. (Foto istimewa/Fajar Kaprawi)

(rel/rzp)

Selasa, 19 Desember 2017 | 13:27

Analisadaily (Medan) - Sumatera Utara merupakan provinsi yang kaya keanekaragaman hayati (biodiversity). Namun ternyata tak banyak informasi mengenai jumlah habitat golongan amfibi dan reptile (herpetofauna).

Hal itu membuat sekelompok peneliti yang tergabung dalam Perkumpulan Amfibi Reptil Sumatera (ARS) melakukan penelitian tentang herpetofauna. Di Sumut, lokasi yang dijadik an objek penelitian adalah kawasan konservasi Taman Hutan Rakyat (Tahura) Bukit Barisan.

Salah satu peneliti ARS, Fajar Kaprawi menjelaskan tentang kegiatan yang diberi nama Penelitian Keanekaragaman Jenis Herpetofauna di Kawasan Tahura Bukit Barisan tersebut. Pertama, penelitian dilakukan karena minimnya informasi soal amfibi dan reptile yang di Sumatera khususnya Sumatera Utara.

“Sebelum penelitian, kami cukup sulit temukan informasi data soal amfibi dan reptile di Sumatera Utara. Kami merasa harus ada informasi yang digali untuk kepentingan masyarakat maupun kebutuhan ilmu pengetahuan,” kata pria yang akrab disapa Datok itu, Selasa (19/12).

Dengan penelitian itu dimaksudkan agar masyarakat maupun pemerintah bisa mudah mendapatkan informasi soal keanekaragaman hayati khususnya amfibi dan reptil di Sumut.

Berdasarkan hasil penelitian yang didukung oleh Nature and Biodiversity Conservation Union (NABU) German dan UPT Tahura Bukit Barisan i tu, jenis herpetofauna yang ditemukan di kawasan Tahura Bukit Barisan sebanyak 316 individu. Jumlah itu terdiri dari 16 suku dan 53 jenis herpetofauna yang terdiri dari 36 jenis amfibi dan 17 jenis reptil.

Baca Juga :

Musika Foresta On The Go Medan: Mengenal Lebih Dalam Hutan Indonesia
Musika Foresta On The Go Medan: Mengenal Lebih Dalam Hutan Indonesia

18 Desember 2017 | 21:28

Dari keseluruhan lokasi memiliki komposisi jenis amfibi (88.3%) yang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis reptil (11.7%).

“Di kawasan Tahura ini juga ditemukan beberapa jenis yang termasuk endemik Sumatera antara lain Chalcorana kampeni, Dendragama boulengeri, Huia sumatra na, Megophrys parallela, dan Popeia toba,” jelas Fajar.

Mengingat luasnya Tahura tersebut dan terbatasnya waktu, penelitian memang hanya dilakukan di lima lokasi antara lain Bandar Baru, Bukum, Daulu, Simeluk, dan Tongkoh.

“Dari lima lokasi tersebut menurut kami belum bisa mecakup secara keseluruhan informasi keragaman jenis herpetofauna yang ada di Tahura Bukit Barisan. Tapi setidaknya menurut kami secara umum dari lima lokasi tersebut sudah bisa mewakilkan dari beberapa wilayah lainya yang ada di Tahura,” tandas Fajar.

Dari penelitian juga diketahui bahwa adanya lokasi wisata yang tidak tertata dengan baik menjadi salah satu faktor mempengaruhi terganggunya habitat.

“Saat survei kami temukan beberapa jenis reptile yang mati dijalan (road kill) di lokasi wisata. Ini dikarenakan masih belum ditata dengan baik lokasi wisata di Tahura. Pengunjung lokasi wisata banyak yang belum mengetahui bagaimana langkah bila mendapati amfibi dan repti le di lokasi itu,” ujar Fajar.

Salah satu peneliti ARS, Fajar Kaprawi (kanan).

Salah satu peneliti ARS, Fajar Kaprawi (kanan).

Tak hanya itu, banyak ditemukan kawasan konservasi yang sengaja dibakar masyarakat. Tentu hal itu mengganggu bahkan merusak habitat bagi amfibi dan reptil di lokasi tersebut.

“Ini berkaitan dengan masih belum jelasnya tapal batas antara kawasan konservasi Tahura dengan lahan masyarakat sekitar yang kami temukan di lapangan. Selain itu bencana alam juga menjadi faktor soal keberadaan habitat di sana,” kata Fajar.

Dia berharap instansi berwenang bisa mengatasi permasalahan tersebut agar keanekaragaman hayati khususnya herpetofauna di Sumut tidak punah. Sebab keanekaragaman hayati herpetofauna menjadi salah satu indikator baik tidaknya kawasan hutan.

“Harus ditata baik soal wisata di sana dan segera menyele saikan tapal batas antara kawasan konservasi Tahura dengan lahan masyarakat.

Dia juga mengingatkan pentingnya penelitian lanjutan di kawasan konservasi Tahura atau kawasan lain di Sumatera Utara. “Perlu ada lanjutan semisal monitoring atau pengawasan. Ini sebenarnya gawean UPT Tahura,” tukasnya.

Penelitian herpetofauna di Tahura dilakukan sejak Juli-September 2017. Metode yang digunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan metode survei perjumpaan Visual/VES (Visual EncounterSurvey) yang dikombinasikan dengan sistem jalur (transect sampling).

(rel/rzp)

Tags :

Terbaru

  • Benzema Masuk Dalam Daftar Belanja Manchester City
    19 Desember 2017 | 15:11
  • Apa Itu Winter Blues?
    19 Desember 2017 | 14:12
  • Boca Juniors Bertekad Bawa Pulang Carlos Tevez
    19 Desember 2017 | 14:10
  • Hati-hati, Ada Game 'Cuphead' Palsu
    19 Desember 2017 | 13:56
  • Rail Clinic Layani Pengobatan Gratis di Stasiun Batang Kuis
    19 Desember 2017 | 13:50

Populer News

Rail Clinic Layani Pengobatan Gratis di Stasiun Batang Kuis
Rail Clinic Layani Pengobatan Gratis di Stasiun Batang Kuis
19 Desember 2017 | 13:50

One fine body…

Sumber: Google News | Berita 24 Sumut

Tidak ada komentar