www.AlvinAdam.com

Berita 24 Sumatera Utara

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Sejarah Berdirinya Kerajaan Natal di Sumatera Utara

Posted by On 11.07

Sejarah Berdirinya Kerajaan Natal di Sumatera Utara

Cerita Pagi

Sejarah Berdirinya Kerajaan Natal di Sumatera Utara

Zia Nasution

loading...
Sejarah Berdirinya Kerajaan Natal di Sumatera Utara
Kota Natal, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara. Foto/Zia Nasution
A+ A- NATAL merupakan salah satu kota kecil yang berada di pesisir barat Sumatera Utara (Sumut), tepatnya di Kabupaten Mandailing Natal (Madina). Natal ini menyimpan banyak sejarah hingga akhirnya disematkan menjadi nama kabupaten di Sumut yang berbatasan langsung dengan Provinsi Sumatera Barat.
Sebelum masuknya Belanda, di daerah tersebut sudah berdiri satu kerajaan bernama Kerajaan Nata. Cikal bakal Kerajaan Nata ini bermula dari Keraja an Indrapura, salah satu kerajaan Minang Kabau yang makmur dan tergabung ke dalam Kerajaan Pagaruyung. Masa kejayaan Kerajaan Indrapura dipimpin seorang raja bernama Sultan Muhammadsyah. (Sumber: Tambo Alam Minang Kabau-Sultan Nan Salapan - hal. 84).
Karena usianya tergolong masih muda, pemerintahan Sultan Muhammadsyah diwakili ayahnya, Sultan Malfarsyah. Sayangnya, Sultan Malfarsyah sangat ambisius dan sering bertindak malampaui wewenangnya sehingga rakyat tidak menyenanginya.
Semetara itu di daerah Manjuto yang terletak di sebelah Selatan Indrapura, berkuasa pula saudara sepupu Sultan Muhammadsyah yang bernama Rajo Adil. Ia didudukkan di sana sebagai wali dari Indrapura. Rajo Adil menentang tindakan sewenang-wenang dari Sultan Malfarsyah sehingga terjadilah perang saudara. Karena terdesak, Sultan Malfarsyah meminta bantuan Belanda di Salido dengan imbalan emas dan lada untuk mengusir Rajo Adil dari Manjuto.
Sebaliknya, Rajo Adil memperoleh bantuan dari perwak ilan Aceh yang ada di Indrapura. Dalam peperangan ini, Rajo Adil terusir dari Manjuto, namun hanya sementara karena Rajo Adil kembali merebut Majuto dengan dukungan penuh kalangan rakyat, kemudian kekuatan militer Belanda berhasil dihancurkan. Ini merupakan kekalahan Belanda yang pertama di Sumatera Barat.
Akhirnya VOC mengambil sikap untuk mendekati kedua belah pihak dengan mengusung perjanjian damai. Berdasarkan penuturan orang tua di Natal, yang diceritakan secara turun-temurun disebutkan, berdirinya daerah Natal bermula dari perantauan salah seorang keturunan raja Indrapura bernama Indra Sutan.
Beliau ditugaskan untuk merantau mencari daerah pemukiman untuk membangun kerajaan. Kira-kira pada tahun 1300 berangkatlah Indra Sutan dengan rombongannya mengharungi Samudera Hindia menuju arah Utara.
Berbagai halangan maupun rintangan mereka hadapi dengan sabar demi mewujudkan cita-cita luhur membangun sebuah dinasti baru. Haluan pun diarahkan memasuki muara sungai beremas terus menyusup ke pedalaman hingga tibalah mereka disebuah negeri yang bernama Kerajaan Ujung Gading (ibukota Kecamatan Lembah Melintang di Kabupaten Pasaman Barat sekarang ).
Kedatangan mereka di sana disambut baik segenap masyarakat dan keluarga besar Kerajaan Ujung Gading. Indra Sutan beserta rombongan menetap beberapa saat untuk melengkapi perbekalan yang mulai menipis. Pada masa inilah terjalin hubungan baik antara Indra Sutan dengan Datuk Imam Basa. Bertepatan pula terjadi kemelut di dalam percaturan politik Kerajaan Ujung Gading sehingga disinyalir akan adanya rencana pembunuhan terhadap diri Datuk Imam Basa.
Lantas Indra Sutan mengajak Datuk Imam Basa agar ikut bersama dengannya berlayar mencari daerah pemukiman baru. Mulanya Datuk Imam tidak bersedia, namun Indra Sutan memberi pandangan betapa tragisnya nanti bila polemik ini harus berakhir dengan perang saudara yang tidak akan menguntungkan kedua belah pihak.
Akhirnya Datuk imam bersedia menerima usulan Ind ra Sutan. Berangkatlah kedua bangsawan ini beserta rombongannya menuju muara. Pelayaran dilanjutkan menuju ke utara hingga tidak berapa lama masuklah iring-iringan pincalang itu ke muara Sungai Batang Natal yang disebut Kualo Tuo.
Terus menyusuri sungai hingga terlihatlah sebuah hamparan tanah yang datar lantas mereka menepi lalu turun mengamati keadaan daerah tersebut sambil mencari keberadaan hunian penduduk namun tak seorangpun manusia yang mereka jumpai. Perbekalan pun diturunkan, sebagian rombongan menyiapkan peralatan sambil mengumpulkan kayu untuk persiapan memasak.
Setelah membincang situasi daerah yang baru saja mereka singgahi, keduanya bersepakat untuk menetap dan bermukim di sana. Lantas prosesi menimbang tanah dan air tawar yang mereka bawa dari daerah asal pun dimulai. Keduanya sama-sama bertanya siapakah di antara mereka yang pertama melakukan ritual tersebut.
Indra Sutan mempersilakan sahabatnya Datuk Imam untuk mengambil peran lebih dahulu. Akhir dari ritual, disudahi dengan memberi nama tempat ini dengan sebutan Malako karena banyaknya tumbuhan kayu bernama malako. Kayu malako ini adalah tumbuhan kayu yang batangnya tidak terlalu besar, ukuran paling besar hanya sebesar tiang rumah namun tahan bertahun-tahun.
Hingga akhir tahun 2000, masyarakat masih sering mengambil kayu malako ke sana sebelum daerah ini dijadikan perkebunan sawit. Penabalan nama ini dilanjutkan dengan nama daerah sekitarnya seperti tempat mereka menyandarkan pincalang disebut dengan Labuhan Ajuong.
Keadaan kontur tanah Kampung Malako yang sayup mata memandang terlihat datar dan indah mengilhami orang-orang di sana menyebutnya dengan nama lain yaitu Ranah Nan Data. Inilah kelak yang akan menjadi cikal bakal nama Nata menurut salah satu versi masyarakat di Nagari Nata.
Setelah beberapa waktu berlalu kedua anak bangsawan itu berniat menjelajahi daerah hulu sungai karena mereka melihat bonggol jagung hanyut dibawa arus sungai. Mere ka pun berkemas dan berlayar kembali menuju hulu sungai. Tidak berapa lama, mereka melihat taratak orang-orang yang tinggal di peladangan. Mereka menggantungkan hidup dari hasil bercocok tanam dan menangkap ikan di sungai.
Rombongan Datuk Imam dan Indra Sutan pun singgah sembari menyapa mereka. Kedua anak bangsawan ini berhasil melakukan diplomasi yang santun dan menyampaikan keinginan mereka mendirikan kerajaan baru. Gayung pun bersambut, kepala suku Taratak menerima maksud mereka dan menyampaikan bahwa di sekitar daerah itu juga terdapat komunitas suku pedalaman. Mereka biasanya menyebutnya sanak suku kubu, yang berdiam di sekitar daerah Sinunukan.
Alhasil, tercapailah kesepakatan untuk mendirikan sebuah kerajaan baru yang dinamai dengan Linggo Bayu. Kerajaan baru ini pun ditata sedemikian rupa dan ibukotanya berkedudukan di Tapus dengan kepala pemerintahannya Tuanku Indera Sutan yang diberi gelar Rajo Putih pada awal tahun 1301. halaman ke-1 dari 2
  • 1
  • 2
Sumber: Google News | Berita 24 Sumut

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »