Kirim Berita Sumut: Klik Disini | Konfirmasi Berita Sumut: Klik Disini

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Cabai Merah Dorong Deflasi di Sumatera Utara

Posted by On 18.04

Cabai Merah Dorong Deflasi di Sumatera Utara

MEDAN, KabarMedan.com | Indeks Harga Konsumen (IHK) Sumatera Utara di bulan Mei 2018 mengalami kontraksi. Secara bulanan IHK bulan Ramadhan tercatat deflasi 0,74% (mtm), berbeda arah dengan nasional yang mengalami inflasi 0,21% (mtm).

Dengan perkembangan tersebut, sampai dengan periode laporan, inflasi tercatat sebesar -0,31% (ytd) atau 3,59% (yoy), masih berada dalam kisaran sasaran inflasi Bank Indonesia 3,5% + 1% (yoy).

Secara spasial, seluruh kota Survei Biaya Hidup (SBH) di Sumatera Utara mengalami deflasi. Deflasi terdalam terjadi di Kota Medan sebesar 0,86% (mtm) dan Kota Padangsidimpuan sebesar 0,55% (mtm). Sementara Kota Sibolga dan Kota Pematangsiantar deflasi tipis masing-masing 0,07% (mtm) dan 0,01% (mtm). Sumber deflasi bulan ini bersumber dari kelompok volatile food dan administered prices, sementara inflasi inti meningkat.

BACA JUGA

Industri Kreatif Bisa Menjadi Penyelamat Perekonomian Nasional Terminal Peti Kemas Domestik Belawan Raih Sertifikat ISPS Code Srikandi Bukalapak Adakan Talk Show Millennials Parenting BOLT 4G Ultra LTE Masuk Dalam Top 100 Most Valuable Brand Indonesia Shopee Catat Transaksi Tertinggi di Marketplace E-commerce Indonesia

Cabai merah kembali menjadi komoditas penyumbang deflasi di Sumatera Utara, yaitu 0,82% (mtm). Berdasarkan pemantauan harga melalui PIHPS, harga cabai merah di pasar tradisional Sumatera Utara pada bulan Mei menurun dari Rp30.450.00 di bulan sebelumnya menjadi Rp20.400.00.

Harga cabai merah di Sumatera Utara jauh dibawah provinsi lain, seperti A ceh Rp33.600.00, Sumatera Barat Rp34.500.00, dan Riau Rp39.450.00. Rendahnya harga cabai merah di tingkat konsumen disebabkan melimpahnya pasokan di pasaran akibat panen yang merata di sejumlah sentra Cabai Merah, termasuk Karo dan Aceh.

“Rendahnya harga cabai merah juga disinyalir memberi dampak pada penurunan daya beli petani. Ini tercermin dari penurunan Nilai Tukar Petani Hortikultura (NTPH) Mei 2018 yang tercatat 90.06 menurun -0,74% dibandingkan bulan April 2018. Hal ini disebabkan penurunan indeks yang diterima (it) petani sementara indeks yang dibayarkan (ib) petani relatif stabil,” kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara, Arief Budi Santoso, Senin (4/6/2018).

Inflasi inti merangkak naik dari 0,14% (mtm) menjadi 0,26% (mtm). Peningkatan terutama bersumber dari subkelompok sandang didorong oleh tingginya aktivitas belanja mendekati Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri.

Ke depan, tekanan harga berpotensi me ningkat disebabkan kenaikan permintaan jelang HBKN Idul Fitri. Hal ini sejalan dengan Survey Pedagang Eceran (SPE) Bank Indonesia periode Maret, yang menunjukkan kenaikan Indeks Ekspektasi Harga (IEH) 3 bulan mendatang (Juni 2018), dari 172,4 menjadi sebesar 189,2.

“Peningkatan indeks tersebut merepresentasikan persepsi responden atas kondisi harga yang meningkat pada bulan Juni akibat kuatnya permintaan,” ujarnya.

Dalam rangka pengendalian inflasi, KPw Bank Indonesia Sumatera Utara dan Pemerintah Daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) berupaya menjaga kestabilan harga melalui pengawasan distribusi bersama Satgas Pangan, operasi pasar dan pasar murah selama bulan Ramadhan, serta melakukan pengawasan mata rantai cabai merah bersama Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Medan.

“TPID juga senantiasa melakukan edukasi belanja bijak kepada masyarakat untuk menjaga inflasi dari sisi permintaan,” pungkasnya. [KM-03]

Sumber: Google News | Berita 24 Sumut

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »